Biografi Halim Perdanakusuma: TNI-AU yang Gugur Saat Tugas

Halo sobat Biografinesia! Sebelumnya kita sudah membahas perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang luar biasa. Sekarang, kita akan mengetahui informasi mengenai biografi Halim Perdanakusuma.

Mendengar nama Halim Perdanakusuma, sobat Biografinesia pasti teringat nama salah satu bandara di Jakarta, ‘kan?

Nah, daripada penasaran kenapa namanya menjadi salah satu nama bandara, yuk langsung simak biografi Halim Perdanakusuma berikut ini.

Profil Halim Perdanakusuma

Nama: Abdul Halim Perdanakusuma

Tempat Lahir: Sampang, Madura, Jawa Timur

Tanggal Lahir: 18 November 1922

Profesi: TNI-AU

Pangkat: Laksamana Muda Udara Anumerta

Wafat: 14 Desember 1947

Biografi Halim Perdanakusuma

Biografi Halim Perdanakusuma
Sumber: Okezone.com

Abdul Halim Perdanakusuma atau terkenal dengan nama Halim Perdanakusuma lahir pada tanggal 18 November 1922, di Sampang, Madura.

Ayahnya bernama Haji Abdulgani Wongsotaruno dan ibunya bernama Raden Ayu Aisah. Haji Abdulgani Wongsotaruno merupakan seorang pemimpin atau patih dari Sampang dan seorang penulis.

Salah satu karyanya yang terkenal dalam bahasa Madura adalah Batara Rama Sasrabahu.

Latar Belakang Pendidikan

Saat masih kecil, Halim Perdanakusuma masuk ke sekolah dasar biasa yang ada di kampung halamannya.

Namun, karena ia harus berpindah-pindah mengikuti orangtuanya, Halim pun melanjutkan sekolah dasar ke Hollandsche Inlandsche School (HIS) Semarang pada tahun 1928.

Saat bersekolah di HIS, Halim Perdanakusuma mulai belajar bahasa Belanda. Setelah lulus, beliau masuk ke sekolah setingkat SMP, yaitu MULO Surabaya. Halim Perdanakusuma lulus pada tahun 1938 dan sudah fasih berbahasa Belanda.

Selanjutnya, Halim Perdanakusuma melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pamong Praja (MOSVIA) Magelang. Namun, beliau harus berhenti mengikuti pendidikan saat masih duduk di tingkat II.

Sebab, pemerintah Hindia Belanda memberlakukan aturan wajib militer kepada seluruh rakyat, termasuk pada daerah jajahan. Tujuannya untuk mempersiapkan diri menghadapi perang Asia saat pergolakan berbagai negara Eropa kian memanas.

Halim Perdanakusuma sempat bekerja di Departemen Dalam Negeri kolonial dalam waktu singkat. Setelah itu, beliau dikirim untuk mengikuti pendidikan opsir atau calon perwira di Torpedo, Surabaya.

Tetapi, hal ini pun tak berlangsung lama karena Belanda mengalami kejatuhan dan harus memberikan daerah kekuasaan tanpa syarat kepada Jepang pada tahun 1942.

Karir Halim Perdanakusuma

Ketika Jepang menduduki Indonesia, Halim Perdanakusuma sedang melakukan pendidikan bersama Angkatan Laut Belanda.

Mereka terpojok sampai Cilacap, sehingga Halim pun terpaksa ikut kabur bersama orang-orang Belanda lainnya ke Australia untuk menyelamatkan diri.

Siapa sangka, perjalanannya ke Australia ternyata membuat Halim Perdanakusuma ikut berkarir bersama angkatan udara yang ada di berbagai negara Eropa.

Halim Perdanakusuma mulai bergabung bersama tentara Inggris untuk melakukan misi di negara India. Karena misi inilah, beliau mengenal Panglima Armada yang pernah menjadi wakil raja Inggris di India, yaitu Laksamana Mountbatten.

Dari sini, Halim Perdanakusuma kembali melanjutkan pendidikan militernya dan mengambil jurusan Angkatan Udara.

Beliau mendapatkan berbagai macam pelatihan, mulai dari latihan navigasi dari Angkatan Udara Kanda, yaitu Royal Canadian Air Force (RCAF). Bahkan, Halim Perdanakusuma sempat menjadi perwira navigasi bagian udara Inggris.

Mengutip dari buku bertajuk Bakti TNI Angkatan Udara 1946 – 2003, selama menjalankan tugas menjadi militer di Royal Air Force (RAF) ketika perang dunia ke-2, Halim Perdanakusuma menyandang pangkat Wing Commander.

Seringkali Halim mendapatkan tugas untuk melakukan pengeboman memakai skadron tempur pesawat Lancaster serta Liberator.

Pernah Dicap Pengkhianat Saat Pulang ke Indonesia

Kehebatan Halim Perdanakusuma selama berkarir di Inggris begitu diakui. Bahkan, dirinya mendapatkan julukan The Black Mascot oleh Angkatan Udara Kerajaan Inggris.

Tak hanya itu, selama menjalankan misi bersama skuadron yang mengudara, seluruh awak pesawat yang terbang bersama Halim selalu pulang dengan selamat.

Pacsa Perang Dunia II tahun 1946, Halim kembali ke Angkatan Laut Belanda. Beliau pun memiliki kesempatan untuk pulang ke tanah air. Sayangnya, kepulangan Halim Perdanakusuma terbilang kurang tepat.

Kala itu, Indonesia sedang menghadapi masa sulit. Sebab, rakyat tengah berjuang melawan penjajahan dari Belanda. Akibatnya, Halim Perdanakusuma dicap sebagai pengkhianat negara dan disebut sebagai antek Belanda.

Halim Perdanakusuma harus rela masuk bui yang ada di wilayah Kediri. Tak lama setelah masuk tahanan, Menteri Pertahanan Amir Syarifuddin meminta untuk mengeluarkan Halim dari sel dan diungsikan ke kampung halamannya karena kondisi kian memanas.

Bergabung Menjadi Tentara Keamanan Rakyat

Abdul Halim Perdanakusuma
Sumber: IDN Times

Ketika mendengar Halim Perdanakusuma bebas, salah satu tokoh Angkatan Udara, yaitu Soerjadi Soerjadarma mengajaknya untuk bergabung menjadi bagian dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Jawatan Penerbangan.

Beliau bertemu dengan Abdulrahman Saleh dan Adisucipto yang saat itu tengah membangun pasukan Angkatan Udara. Setelah bergabung bersama TKR, Halim mendapatkan mandat sebagai perwira operasi udara dan pangkat Komodor Muda Oedara (KMO) pada awal 1947.

Dirinya mendapatkan misi sebagai instruktur navigasi di sekolah penerbangan yang didirikan oleh Agustinus Adisucipto.

Selain itu, sebagai Komodor Muda Oedara (KMO), Halim Perdanakusuma juga mendapatkan beberapa tugas penting.

Salah satunya menyiapkan serangan balasan kepada kolonial Belanda karena Indonesia telah diserang habis dalam Agresi Militer I pada tanggal 22 Juli 1947.

Misi yang beliau emban berhasil melumpuhkan tiga kota yang Belanda kuasai, yaitu Semarang, Salatiga dan Ambarawa pada tanggal 29 Juli 1947.

Atas keberhasilannya ini, nama AURI (Angkatan udara RI) pun kian melambung. Hal ini membuat Belanda menjadi geram dan melancarkan serangan membabi buta ke pesawat Dakota VT-CLA.

Kala itu, pesawat Dakuta VT-CLA sedang ditumpangi oleh Adisucipto, Abdulrahman Saleh, serta Adisumarno Wiryokusumo. Ketiganya baru saja pulang dari Palang Merah Internasional untuk membawa bantuan berupa obat-obatan.

Gugurnya Halim Perdanakusuma

Setelah ketiga pelopor AURI gugur, Halim Perdanakusuma diminta untuk menggantikan posisi Adisucipto, yaitu Wakil Kepala Staff AURI.

Pada bulan Agustus 1947, Halim Perdanakusuma mendapatkan tugas untuk membangun Angkatan Udara di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Tujuannya adalah menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera agar bisa menembus blockade udara Belanda.

Saat proses pembangunan Angkatan Udara ini, Halim Perdanakusuma resmi diangkat menjadi Komandemen Tentara Sumatera.

Bersama rekannya, Iswahyudi, beliau mendapat tugas untuk mengangkut senjata serta amunisi dengan menembus blokade lawan.

Selain itu, beliau mengajak masyarakat di pulau Andalas untuk sukarela menyumbang emas demi membeli pesawat yang mumpuni bagi AURI.

Atas bantuan masyarakat, Halim Perdanakusuma dapat membeli pesawat berjenis AVRO Anson dengan registrasi VH-PBY yang ditukar dengan 12 kg emas murni.

Pesawat ini beliau manfaatkan untuk melakukan penjajakan perdagangan Indonesia ke negara tetangga, termasuk Thailand hingga Singapura.

Naasnya, ketika hendak pulang dari Singapura ke Bukittinggi, Sumatera, pesawat yang beliau dan rekannya tumpangi mengalami kecelakaan akibat cuaca buruk di Tanjung Hantu, Semenanjung Malaya pada tanggal 14 Desember 1947.

Jasadnya disemayamkan di Lumut, Semenanjung Malaya, kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata pada tahun 1975.

Penghargaan

Pada 17 Agustus 1952, Halim Perdanakusuma mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Laksamana Muda Udara Anumerta.

Dalam waktu bersamaan, namanya diabadikan sebagai nama salah satu bandara Indonesia, yaitu Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta.

Atas jasanya yang telah beliau berikan kepada Angkatan Udara RI, Halim Perdanakusuma mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, tepat pada hari Pahlawan 10 November 1975.

Kesimpulan

Itulah informasi mengenai biografi Halim Perdanakusuma yang bisa kalian ketahui. Kini, sobat Biografinesia tak hanya mengetahui namanya melalui bandara di Jakarta, saja, ya. Tetapi mengetahui juga perjuangan besar yang beliau lakukan semasa hidup.

Hebatnya, Halim Perdanakusuma tercatat sudah merampungkan 44 misi penerbangan, lho. Termasuk saat menggunakan Avro Lancaster serta Liberator ketika sedang melakukan serangan udara di wilayah Jerman hingga Prancis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *