Biografi Mohammad Natsir: Ulama, Politikus dan Pahlawan RI

Halo sobat Biografinesia! Dalam artikel kali ini, kalian akan mengetahui informasi seputar biografi Mohammad Natsir, sosok ulama dan politikus yang berjasa bagi negara republik Indonesia.

Mohammad Natsir menjadi sosok ulama yang gigih dalam memperjuangkan hak-hak bangsa. Beliau pernah menduduki beberapa jabatan menteri hingga menjadi presiden dalam Liga Muslim Dunia.

Nah, bagi sobat Biografinesia yang penasaran dengan biografi Mohammad Natsir, yuk langsung cek ulasannya berikut!

Profil Mohammad Natsir

Nama: Mohammad Natsir

Tempat Lahir: Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat

Tanggal Lahir: 17 Juli 1908

Profesi: Ulama dan Politikus

Istri: Nurnahar

Jumlah Anak: 6

Wafat: 6 Februari 1993

Biografi Mohammad Natsir

Biografi Mohammad Natsir
Sumber: Muhammadiyah

Mohammad Natsir lahir pada tanggal 17 Juli 1908, di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat.

Beliau terlahir dari keluarga Minangkabau yang taat dalam beragama Islam. Natsir memiliki gelar Datuk Sinaro Panjang dari kampung halamannya.

Mohammad Natsir merupakan putra dari pasangan Mohammad Idris Sutan Saripado serta Khadijah.

Ayah Natsir bekerja sebagai juru tulis di kantor Kontroler Maninjau. Tetapi, pada tahun 1918, beliau pergi ke Ujung Pandang, Sulawesi Selatan dan mulai bekerja sebagai sipir.

Mohammad Natsir menikah bersama seorang perempuan bernama Nurnahar di Bandung pada tanggal 20 Oktober 1934. Dari pernikahannya, keduanya memiliki enam orang anak.

Kepribadian Mohammad Natsir

Mohammad Natsir merupakan perdana menteri kelima Indonesia, pemimpin partai politik Masyumi serta tokoh Islam terkemuka.

Natsir terkenal memiliki kepribadian yang aktif. Beliau memiliki banyak pengalaman organisasi, salah satunya menjabat sebagai wakil ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat).

Tak hanya itu, Natsir juga pernah menjadi Presiden Liga Muslim se-dunia (World Moslem Congress), ketua Dewan Masjid se-dunia, anggota Dewan Eksekutif Rabithah Alam Islamy yang pusatnya ada di Makkah serta mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Mohammad Natsir memiliki tutur kata yang sopan santun, rendah hati dan bersuara lembut. Beliau sangat bersahaja dan terkadang sering bercanda dengan siapapun yang menjadi teman bicaranya.

Salah satu teman dekatnya adalah Douwes Dekker dan memiliki kesamaan hobi, yaitu bermain gitar. Keduanya sering membicarakan tentang musik klasik Ludwig van Beethoven serta novel asal Rusia karya Boris Leonidovich Pasternak.

Natsir dan Dekker mengobrol menggunakan bahasa Belanda. Selain bahasa Belanda, Mohammad Natsir juga menguasai sejumlah bahasa asing lainnya, seperti bahasa Inggris, Prancis, Jerman hingga Arab.

Latar Belakang Pendidikan

Mohammad Natsir memulai pendidikannya dari Sekolah Rakyat (SR) Maninjau selama 2 tahun. Selanjutnya, beliau pindah ke sekolah Belanda khusus pribumi, yaitu Hollandsche Inlandsche School (HIS) Adabiyah, Padang.

Tetapi, Mohammad Natsir harus pindah sekolah lagi ke HIS Solok dan dititipkan kepada seorang saudagar kaya, yaitu Haji Musa.

Seperti anak Minangkabau lainnya, selepas bersekolah dari HIS pada pagi hari, maka Natsir pun pergi mengaji ke Madrasah Diniyah pada malam harinya.

Natsir melanjutkan pendidikannya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) pada tahun 1923. Saat di MULO, beliau aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi. Salah satunya adalah Organisasi Pemuda Jong Islamieten Bond (JIB).

Setelah lulus dari MULO, Natsir pergi merantau ke Bandung untuk menimba ilmu di Algemeene Middelbare School (AMS) serta lulus pada tahun 1930.

Kala itu, Natsir kembali berkiprah dalam JIB Bandung, bahkan menjadi ketuanya pada periode 1928 – 1932.

Karir Mohammad Natsir

Karir Mohammad Natsir
Sumber: STID Mohammad Natsir

Selama berada di kota Bandung, Mohammad Natsir mendirikan Lembaga Pendidikan Islam atau terkenal dengan singkatan Pendis.

Pendis merupakan suatu bentuk pendidikan modern yang mengkombinasikan antara pendidikan pesantren dengan pendidikan umum.

Dalam waktu 10 tahun, Pendis mulai berkembang pesat, bahkan memiliki sekolah mulai dari jenjang TK sampai Sekolah Dasar (SD).

Pada 1938, Mohammad Natsir aktif pada bidang politik dan bergabung ke dalam partai bernama Partai Islam Indonesia (PII).

Saat masa pemerintahan Jepang, Natsir aktif tergabung dalam Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang terbentuk pada tanggal 5 September 1942.

Seiring berjalannya waktu, MIAI berganti nama menjadi Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). selama berada di Masyumi, Natsir bertemu dengan beberapa tokoh ulama dan politik lainnya, salah satunya adalah Buya Hamka.

Selain Masyumi, Mohammad Natsir juga menjabat sebagai Kepala Bagian Pendidikan Kotamadya Bandung periode 1942 – 1945.

Ketika memasuki awal kemerdekaan, Natsir mulai aktif menjadi seorang politikus sekaligus negarawan yang penting bagi Indonesia.

Awalnya, beliau menjadi ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia pada tanggal 25 November 1945. Selanjutnya, Natsir menjabat sebagai Menteri Penerangan Indonesia pertama periode 1946 sampai 1949.

Pada 1950, Mohammad Natsir mengumumkan Mosi Integral Natsir yang mana hal ini berhasil menyatukan kembali Republik Indonesia menjadi negara kesatuan yang sebelumnya sempat berbentuk federal.

Atas jasanya inilah, Mohammad Natsir ditunjuk oleh presiden Soekarno menjadi Perdana Menteri periode 1950 – 1951.

Menjadi Presiden Liga Muslim Dunia

Jabatan Perdana Menteri hanya Mohammad Natsir duduki dalam waktu satu tahun saja. Sebab, beliau memiliki pandangan yang cukup tajam dan berbeda dengan presiden Soekarno.

Bahkan, Mohamad Natsir sempat masuk ke dalam bui karena dituding terlibat dalam pemberontakan PRRI. Dirinya baru bebas setelah memasuki orde baru, yaitu pada tahun 1966.

Sayangnya, Mohammad Natsir masih tetap dipinggirkan oleh pemerintah Orde Baru. Padahal, kiprah Natsir sangat diakui oleh dunia Internasional, terutama negara-negara Islam.

Mohammad Natsir pernah memimpin sejumlah organisasi Islam Internasional. Mulai dari menjadi Presiden Liga Muslim Dunia, Ketua Dewan Masjid Dunia, serta menjadi presiden Oxford Center for Islamic Studies yang berada di London.

Walaupun memiliki kiprah di dunia Internasional, Mohammad Natsir pernah dicekal pada masa pemerintahan Soeharto lantaran ikut menandatangani petisi 50 guna mengkritik pemerintah.

Akhir Hayat Mohammad Natsir

Mohammad Natsir tutup usia pada 6 Februari 1993, tepatnya usia 84 tahun di Jakarta.

Penghargaan

Atas kiprah dan jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menetapkan Mohammad Natsir sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 6 November 2008.

Selain itu, beliau memiliki banyak penghargaan Internasional. Mulai dari bintang Nichan Istikhar (Grand Gordon) pada tahun 1957 dari Raja Tunisia, yaitu Lamine Bey atas jasanya ikut memperjuangkan kemerdekaan rakyat Afrika Utara.

Tahun 1980, Muhammad Natsir kembali mendapatkan penghargaan Faisal Award dari Raja Fahd Arab Saudi lewat Yayasan Raja Faisal di Riyadh, Arab Saudi.

Beliau juga mendapatkan gelar doktor kehormatan bidang politik Islam dari Universitas Islam Libanon tahun 1967.

Kesimpulan

Mohammad Natsir terkenal sebagai tokoh pejuang yang sederhana sepanjang zaman. Selama menjabat sebagai menteri, Natsir selalu menolak berbagai macam hadiah, termasuk mobil mewah dan rumah megah.

Beliau hanya memiliki dua setel kemeja dan jas yang bertambal. Bahkan, ketika dirinya mundur dari jabatan Perdana Menteri, sekretarisnya, Maria Ulfa pernah ingin menyerahkan sisa dana taktis yang merupakan hak menteri kepadanya, tetapi tetap beliau tolak.

Itulah biografi Mohammad Natsir yang bisa sobat biografinesia ketahui. Sosoknya yang sederhana sangat dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia. Tak cuma di Indonesia, beliau pun terkenal sampai ke luar negeri, khususnya oleh negara-negara Islam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *