Biografi Taufik Ismail, Sang Penyair Legendaris Indonesia

Hai sobat Biografinesia! Kali ini kita akan membahas biografi salah satu sastrawan sekaligus penyair legendaris Indonesia, yaitu biografi Taufik Ismail.

Beliau hidup di keluarga guru dan wartawan, sehingga membuat dirinya suka membaca. Oleh karena itu, Taufik Ismail pun bercita-cita menjadi seorang sastrawan saat masih duduk di bangku SMA.

Bagi sobat Biografinesia yang penasaran seperti apa perjalanan hidup, pendidikan, karir dan penghargaan yang pernah didapatkannya? Yuk, langsung simak biografi Taufik Ismail berikut ini.

Biografi Taufik Ismail

Taufik Ismail lahir pada tanggal 25 Juni 1935 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Beliau lahir dari pasangan A. Gaffar Ismail dan Sitti Nur Muhammad Nur. Meskipun lahir di Bukittinggi, tetapi beliau dibesarkan di Pekalongan.

Beliau merupakan anak sulung dan memiliki dua orang adik, yaitu Ida Ismail dan Rahmat Ismail.

Taufik Ismail hidup di tengah lingkungan guru dan wartawan. Ayahnya seorang ulama Muhammadiyah terkemuka.

Dikarenakan latar belakangnya itulah, Taufik Ismail terkenal sebagai seorang penyair dan sastrawan bernafaskan keagamaan. Bahkan, beliau juga pernah menulis lirik lagu untuk kelompok Bimbo.

Saat SMA, Taufik Ismail pernah bercita-cita ingin menjadi seorang sastrawan. Sebab, sejak kecil Taufik sudah gemar membaca.

Adapun novel pertama yang beliau baca adalah Tak Potoes Diroendoeng Malang karya S. Takdir Aljsjahbana dan novel terjemahan bertajuk Tiga Panglima Perang karya Alexander Dumas.

Menariknya, sajak pertama yang ia ciptakan berhasil nangkring di majalah Kisah dan Mimbar Indonesia.

Taufik Ismail memiliki julukan atau gelar Datuk Panji Alam Khalifatullah.

Riwayat Pendidikan Taufik Ismail

Taufik Ismail mengawali masa pendidikan mulai dari SD di Solo, kemudian menyelesaikannya di Sekolah Rakyat Muhammadiyah Ngupasan Yogyakarta, pada tahun 1948.

Selanjutnya, beliau melanjutkan pendidikan ke SMP yang ada di tempat kelahirannya, yaitu Bukittinggi dan berhasil lulus pada tahun 1952.

Sementara itu, masa SMA-nya beliau habiskan di Bogor, tepatnya di SMAN Pekalongan Bogor pada tahun 1956.

Berkat kecerdasannya, Taufik Ismail pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat, yaitu di White First Bay High School, Milwakee, Wisconsin pada tahun 1957.

Setelah tamat SMA, beliau melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia (UI) dan mengambil Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, yaitu mulai dari tahun 1957 sampai 1963.

Menariknya, beliau juga pernah menempuh pendidikan non gelar di luar negeri. Tepatnya di School of Letters International Writing Program, University of Lowa, pada tahun 1971 sampai 1972 dan tahun 1991 sampai 1992.

Terakhir, beliau menempuh pendidikan di Mesir, yaitu di University in Cairo, Faculty of Language and Literature America.

Kehidupan Pribadi

Taufik Ismail menikah pada tahun 1971 dengan Esiyanti Yatim dan memiliki seorang anak laki-laki bernama Bram Ismail. Beliau dan keluarganya tinggal di Jl Utan Kayu Raya 66-E, Jakarta 13120.

Perjalanan Karir Taufik Ismail

Taufik Ismail
Sumber: Islampos

Saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi, Taufik Ismail pernah menjadi seorang asisten dosen mata kuliah Manajemen Peternakan, yaitu pada tahun 1961 – 1964.

Sayangnya, Taufik Ismail dipecat lantaran ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan. Yang mana konsep kebudayaan ini mengusung tema humanisme-universal pada tahun 1963-an.

Pada tahun 1961 – 1963, beliau pernah menjadi Ketua II Dewan Mahasiswa, Universitas Indonesia. Dari pengalaman organisasi ini, beliau terus berkiprah dalam berbagai organisasi yang ada di lingkungan masyarakat.

Bahkan, Taufik Ismail pernah ikut mendirikan Dewan Kesenian Jakarta dan menjadi sekretarisnya pada tahun 1960 akhir sampai awal tahun 1970-an.

Walaupun beliau mengambil studi Kedokteran Hewan, nyatanya Taufik Ismail memilih aktif bekerja di bidang media, yaitu menjadi seorang wartawan.

Selanjutnya, pada tahun 1966, Taufik Ismail dan kawan-kawan, yaitu Mochtar Lubis, Arif Budiman, P.K Oyong dan Zaini mulai mendirikan sastra bulanan bernama “Horison”.

Perjalanan Menjadi Seorang Penyair

Setelah mendirikan Horison, Taufik Ismail pun banyak berkarir menjadi seorang penyair.

Tulisan pertama yang ia tulis adalah kumpulan puisi demokrasi yang ada di majalah Tirani serta Benteng pada tahun 1966.

Beliau juga terkenal sebagai penyair partisan yang muncul saat aksi demontrasi mahasiswa pada tahun 1966 serta menjadi seorang wartawan pada majalah harian Kami.

Tak hanya puisi bertemakan demonstrasi, Taufik Ismail juga menulis kumpulan puisi untuk anak berjudul “Kenalkan Saya Hewan” yang terbit pada tahun 1973.

Memasuki orde baru, Taufik Ismail mulai menciptakan puisi yang menceritakan keadaan saat itu.

Salah satu puisi terkenalnya bertajuk “Malu Aku Jadi Orang Indonesia” yang diterbitkan oleh Yayasan Ananda tahun 1998.

Karya Taufik Ismail

Karya Taufik Ismail
Sumber: Tokopedia

Sebagai seorang penyair dan sastrawan legendaris Indonesia, Taufik Ismail memiliki banyak karya terkenal, diantaranya:

  • Silhuet (1965)
  • Bukit Biru, Bukit Kelu (1965)
  • Refleksi Seorang Pejuang Tua (1966)
  • Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini (1966)
  • Dengan Puisi, Aku … (1966)
  • Doa (1966)
  • Tirani (1966)
  • Oda Bagi Seorang Sopir Truk (1966)
  • Pengkhianatan Itu Terjadi Pada Tanggal (1966)
  • Bendera Laskar (1966)
  • Bagaimana Kalau (1966)
  • Kembalikan Indonesia Padaku (1971)
  • Kenalkan, Saya Hewan (1976)
  • Dari Catatan Seorang Demonstran (1993)
  • Mencari Sebuah Mesjid (1988)
  • Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998)

Saat ini, karya puisi yang beliau ciptakan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Mulai dari bahasa Arab, Inggris, Jerman, Prancis hingga Jepang.

Selain karya puisi, Taufik Ismail pernah menulis lagu untuk penyanyi terkenal Chrisye. Lirik lagu yang beliau tulis berjudul “Ketika Tangan dan Kaki Berbicara”.

Penghargaan yang Pernah Didapat

Taufik Ismail merupakan tokoh sastrawan angkatan ‘66. Atas jerih payahnya, beliau berhasil mendapatkan banyak penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri, yaitu:

  • Penghargaan Anugerah Seni (1970)
  • Cultural Visit Award oleh Pemerintah Australia (1977)
  • Pengarang Tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia (1993)
  • Penulisan Karya Sastra oleh Pusat Bahasa (1994)
  • South East Asia Write Award oleh Kerajaan Thailand (1994)
  • Doctor Honoris Causa oleh Universitas Negeri Yogyakarta (2003)

Kontroversi Taufik Ismail

Taufik Ismail pernah mendapatkan sorotan nasional pada tahun 2016, terutama di kalangan sastrawan dan tokoh agama.

Hal ini terjadi karena beliau mengatakan bahwa lagu “Bagimu Negeri” Ciptaan Kusbini memiliki nilai sesat.

Banyak sekali tokoh yang menyanggah dan tak setuju, terutama Anang Hermansyah. Sebab, lagu yang diciptakan Kusbini itu memiliki tema semangat kemerdekaan serta nasionalisme.

Terutama jika melihat rekam jejak Kusbini yang rata-rata lagu ciptaannya memiliki makna perjuangan.

Kesimpulan

Sejak tahun 1970-an, Taufik Ismail sering membacakan puisi yang ia ciptakan di depan umum, baik itu di dalam maupun luar negeri.

Beliau membacakan beberapa puisi ciptakan di berbagai acara sastra maupun festival yang ada di 24 kota di Asia, Amerika, Afrika, Australia hingga Eropa.

Nah, itulah informasi seputar biografi Taufik Ismail yang bisa sobat Biografinesia ketahui secara lengkap. Bagaimana, menarik sekali, bukan? Nantikan informasi seputar biografi para tokoh terkenal lainnya, ya!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *