Biografi Urip Sumoharjo: Penggagas Berdirinya TNI

Halo sobat Biografinesia! Kali ini kita akan membahas biografi Urip Sumoharjo, pahlawan nasional yang berasal dari Purworejo sekaligus penggagas berdirinya TNI.

Sebelumnya, kita sudah mengetahui salah satu pahlawan asal Purworejo juga, yaitu Jenderal Ahmad Yani.

Tentunya, Urip Sumoharjo memiliki karir militer serta perjuangan yang besar bagi bangsa Indonesia.

Nah, daripada menunggu lama, yuk langsung cek biografi Urip Sumoharjo berikut ini. Pastikan baca sampai akhir, ya sobat Biografinesia.

Profil Urip Sumoharjo

Nama: Oerip Soemohardjo

Tempat Lahir: Purworejo

Tanggal Lahir: 22 Februari 1893

Profesi: Jenderal dan Kepala Staf Umum Tentara Nasional Indonesia (TNI)

Wafat: 17 November 1948

Biografi Urip Sumoharjo

Biografi Urip Sumoharjo
Sumber: ceknricekcom

Saat kecil, Urip Sumoharjo memiliki nama Muhammad Sidik. Beliau lahir pada tanggal 22 Februari 1893 di Sindurjan, Purworejo, Jawa Tengah.

Urip Sumoharjo terlahir dari keluarga priyayi. Sang ayah, Sumoharjo, merupakan seorang kepala sekolah dan tokoh Islam setempat. Sementara ibunya adalah seorang bangsawan, putri dari Raden Tumenggung Widjojokoesoemo, yaitu bupati Trenggalek.

Awalnya, urip Sumoharjo bersekolah di sekolah setempat yang dikepalai oleh sang ayah. Namun, beliau terkenal sebagai anak pemberani yang nakal dan memiliki perangai buruk.

Bahkan kenakalannya membuat dirinya sempat tak sadarkan diri beberapa saat setelah jatuh dari atas pohon.

Melihat perangai anaknya tersebut, sang ibu segera mengirim surat kepada Tumenggung Widjodjokoesoemo. Dalam suratnya, beliau menjelaskan bahwa perangai buruk anaknya mungkin berasal dari namanya.

Sehingga, Widjodjokoesoemo pun meminta namanya untuk diganti dari Sidik menjadi Urip yang memiliki arti hidup. Sejak saat itulah, nama Muhammad Sidik berganti menjadi Urip Sumoharjo.

Pendidikan

Tak hanya mengganti nama, orangtuanya memindahkan Urip Sumoharjo ke sekolah putri Belanda, yaitu Europese Lagere Meisjesschool (ELM). Tujuannya supaya Urip bisa lebih tenang, terutama dari segi tingkah lakunya.

Sebenarnya, kenapa Urip pindah ke sekolah putri? Sebab, sekolah putra Belanda saat itu sudah penuh dan tak menerima murid lagi.

Setelah lulus dari ELM, Urip Sumoharjo lantas melanjutkan studinya ke Pendidikan Pegawai Pribumi alias OSVIA. Harapannya agar Urip bisa menjadi seorang bupati nantinya.

Namun, pendidikannya saat di OSVIA ternyata tak berjalan mulus. Tahun 1909, sang ibu meninggal dunia membuat Urip merasakan kesedihan yang berkepanjangan.

Setelah mampu bangkit dari keterpurukan, Urip memutuskan untuk mendaftar ke akademi militer Meester Cornelis, Batavia.

Awalnya, sang ayah menolak keputusan anaknya. Tetapi, Urip tak bisa dibujuk dan akhirnya ayahnya pun menyetujui keputusan anaknya tersebut.

Pada bulan Oktober 1914, Urip Sumoharjo berhasil lulus dari akademi militer dan mulai menjabat sebagai letnan dua Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) atau angkatan perang kolonial Belanda.

Karir Militer Urip Sumoharjo

Urip Sumoharjo resmi memiliki jabatan sebagai pemimpin Batalion XII Meester Cornelis, Batavia.

Ketika pindah tugas ke Balikpapan, Urip mendapatkan promosi sebagai letnan satu. Tetapi, beliau harus tahan menghadapi diskriminasi dari tentara Belanda karena hanya dirinya satu-satunya orang pribumi.

Setelah Balikpapan, Urip pindah ke Malinau dan berpatroli di Kerajaan Sarawak yang sedang Belanda dan Inggris kuasai. Dirinya bertugas untuk mencegah terjadinya konflik serta praktik pemenggalan kepala manusia antar suku Dayak.

Pada tahun 1923, Urip Sumoharjo pindah lagi ke kampung halamannya, yaitu Purworejo karena saat berada di tempat sebelumnya, Borneo, rumah yang ia tempati habis terbakar.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada bulan September 1925, Urip pindah tugas ke Magelang, tepatnya ke sebuah unit militer bentukan KNIL, yaitu Marechaussee te Voet.

Lalu, beliau pindah lagi ke Ambarawa setelah menikah pada tanggal 30 Juni 1926. Beliau mendapatkan tugas untuk membangun kembali unit KNIL yang sudah bubar. Urip pun meraih promosi dengan menjabat sebagai kapten.

Pada tahun 1933, Urip Sumoharjo dikirim ke daerah Padang Panjang, Sumatera untuk menangani kerusuhan yang menewaskan para perwira Belanda.

Setahun kemudian, beliau pindah lagi ke Purworejo. Namun, pada pertengan tahun 1938, Urip berselisih dengan bupati setempat, sehingga diminta untuk pindah ke Gombong.

Hanya saja, Urip menolak dan memutuskan keluar dari KNIL, serta membawa keluarganya untuk pindah ke Yogyakarta.

Salah Satu Penggagas Berdirinya TNI

Jenderal Urip Sumoharjo
Sumber: VOI

Pada tahun 1940, Urip Sumoharjo kembali ke dunia militer karena ada ancaman serangan Jepang. Kemudian, saat masa kependudukan Jepang, Urip pernah ditangkap dan masuk ke dalam bui.

Setelah proklamasi Indonesia diumumkan, Urip Sumoharjo bergabung dengan kelompok militer. Tanggal 23 Agustus 1945, dirinya mempelopori petisi yang berisi dorongan untuk membentuk formasi militer nasional.

Kala itu, sudah terbangun suatu organisasi bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR). Namun, BKR digunakan untuk organisasi kepolisian.

Untuk badan tentara, maka terbentuklah Tentara Keamanan Rakyat alias TKR pada tanggal 5 Oktober 1945.

Setelah 9 hari pembentukan TKR, Urip Sumoharjo resmi menjadi Kepala Staf Umum dan panglima sementara TKR. Salah satu tugasnya adalah menyatukan serta memusatkan angkatan perang yang masih tersebar secara kedaerahan saat itu.

Urip berhasil melakukan strukturisasi sampai TKR berganti menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Kemudian, pada tanggal 3 Juni 1947, TRI pun berganti nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) sampai sekarang.

Perjuangan Urip Sumoharjo Pasca Kemerdekaan RI

Saat pertemuan TKR, pada 12 November 1945, Jenderal Soedirman yang saat itu menjabat sebagai komandan Divisi V Purwokerto terpilih menjadi panglima angkatan perang.

Kala itu, ada dua pilihan yang akan menjadi panglima angkatan perang, yaitu Urip Sumoharjo dan Jenderal Soedirman. Tetapi, Urip kalah satu suara dalam pemungutan suara buntu. Urip mendapatkan 21 suara, sementara Soedirman lebih unggul dengan 22 suara.

Ketika Jenderal Soedirman memimpin, Urip Sumoharjo terpilih menjadi kepala staf dengan pangkat Letnan Jenderal (Letjen).

Jenderal Soedirman mulai berupaya untuk mengonsolidasikan serta mempersatukan angkatan perang. Sementara Urip bertugas untuk menangani masalah-masalah teknis serta organisasi.

Selain itu, keduanya bersama-sama berhasil mengatasi ketidaksepahamanan antara mantan KNIL serta PETA.

Wafatnya Urip Sumoharjo

Hari demi hari, kondisi kesehatan Urip Sumoharjo kian melemah sehingga menjalani perawatan dari dokter Sim Ki Ay.

Pada 17 November 1948, Urip Sumoharjo meninggal akibat penyakit serangan jantung dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan, Semaki.

Penghargaan

Atas kiprahnya di bidang militer dan perjuangannya untuk Indonesia, Urip Sumoharjo menerima berbagai macam penghargaan, yaitu:

  • Bintang Sakti (1959)
  • Bintang Mahaputra (1960)
  • Bintang Republik Indonesia Adipurna (1967)
  • Bintang Kartika Eka Pakci Utama (1968)
  • Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 10 Desember 1964 berdasarkan Kepres Nomor 314 Tahun 1964
  • Akademi militer Indonesia di Magelang mendedikasikan tugu untuk dirinya pada tanggal 22 Februari 1964
  • Nama Urip Sumoharjo diabadikan menjadi nama jalan, khususnya di Purworejo, Yogyakarta serta Jakarta.

Kesimpulan

Itulah informasi seputar biografi Urip Sumoharjo yang bisa sobat Biografinesia ketahui.

Dari ulasan di atas, kita bisa mengetahui bahwa Urip Sumoharjo merupakan putra Indonesia yang lebih mengagungkan karya daripada kata, serta mengutamakan Dharma daripada minta.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *